Komunikasi dan Informatika Sebagai Perekat Bangsa – Orasi Ilmiah Tifatul Sembiring, Menteri Komunikasi dan Informatika
02.40
0
komentar
Tifatul Sembiring
Disampaikan oleh : Tifatul Sembiring
Menteri Komunikasi dan Informatika
Pada acara Wisuda Sarjana dan Pascasarjana
Universitas Esa Unggul Jakarta, 31 Maret 2010
Yth. Rektor Universitas Esa Unggul.
Yth. Bpk/Ibu Dosen dan Civitas Academica Universitas Esa Unggul. Para Wisudawan dan Wisudawati yang kami banggakan. Para Mahasiswa yang kami cintai. Dan Hadirin sekalian yang berbahagia.
Assalamu’alaikunwarrahmatullahiwabarakatuh, Selamat pagi.
Syukur Alhamdulillah kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat
dan ridho-Nya yang dilimpahkan kepada kita semua, sehingga memungkinkan
kita pada hari ini untuk bersama-sama hadir daiam acara wisuda sarjana
dan pasca sarjana Universitas Esa Unggul yang terhormat dan sangat
berbahagia ini. Sesuai dengan permintaan Rektor, sambutan atau lebih
tepatnya disebut orasi ilmiah ini mengambil judul “Komunikasi dan
Informatika Sebagai Perekat Bangsa”.
Ketika awal kami menerima undangan untuk hadir dan diminta menyampaikan keynote speech dalam acara ini, kami merasa sangat senang dan itulah sebabnya kami Alhamdulillah menyanggupi hadir di tempat ini, karena selain temanya sangat menarik, juga memungkinkan kita bersama untuk sating mengingatkan, bahwa pada beberapa waktu terakhir ini dirasa sangat penting bagi kita untuk kembali kita renungkan sejenak sampai seberapa jauh komitmen, pengabdian dan tanggung-jawab kita telah dikontribusikan untuk bangsa dan negara yang kita cintai ini. Ini bukan berarti telah terjadi suatu proses panjang ke arah dekadensi pengabdian pada, tetapi dengan dinamika politik nasional yang sangat fluktuatif dan kadang sulit diprediksi arah perkembangannya ini muncul suatu pemikiran tentang kebutuhan solusi alternatif yang mungkin bisa dikontribusikan untuk mengatasi berbagai masalah kebangsaan.
Para hadirin sekalian yang kami hormati. Sejak awal memimpin
Kementerian Kominfo, maka kredo utama yang selalu kami dengungkan di
berbagai kesempatan adalah : komunikasi lancar – informasi benar. Kredo
tersebut memang menuntut Kementerian Kominfo untuk menanggung berbagal
konsekuensi berat ketika hams mengimplementasikannya secara konsisten
dan konsekuen. Dari aspek sarana komunikasinya menuntut adanya
kelancaran, dan ini berarti bahwa Kementerian Kominfo harus semaksimal
mungkin menyediakan sarana dan prasarana infrastruktur komunikasi secara
baik agar informasi berlangsung dengan lancar.
Saat ini pemerintah, khususnya Kementerian Kominfo, sedang melakukan
percepatan pembangunan ICT, baik yang sepenuhnya dilakukan pendanaannya
oleh kalangan industri ICT itu sendiri secara tunggal maupun dalam
bentuk konsorsium serta berbagai institusi lainnya termasuk perguruan
tinggi. Kebijakan ini adalah sebagai salah satu strategi pemerintah
untuk memperlancar penyediaan akses komunikasi, sehingga informasi yang
flingkupnya sangat global dapat drakses dalam kesempatan pertama. Sarana
tersebut dapat dimanfaatkan untuk kondisi normal maupun dalam bencana
alam. Fakta menunjukkan, bahwa potensi Indonesia dalam iinier ring of
fire dart kemungkinan ancaman gempa bumi dan bencana vulkanik cukup
tinggi, telah mendorong Kementerian Kominfo dalam tiga tahun terakhir
ini untuk mencari sejumlah solusi alternatif yang concrete, reliable dan
acceable. Solusi ini memungkinkan jalinan komunikasi yang darurat
sekafipun akan tetap terjaga dari pusat ke daerah yang paling pelosok
sekalipun untuk memberikan pertolongan darurat dalam bencana alam.
Kesannya memang terlalu sederhana, tetapi jika masalah interaksi
komunikasi pusat dan dabrah dalam kondisi bencana alam seperti itu tidak
ditangani dengan baik, maka akan menjadi entry point yang nilai
sensitivitasnya sangat tinggi, yaitu mulai dari kekurang pedulian pusat
terhadap daerah, lambannya koordinasi melalui sarana komunikasi dan
anggapan terhadap kekurang seriusan dalam penanganan bencana aiam di
suatu daerah tertentu. Itulah sebabnya, seperti yang belum lama ini
terjadi ketilka berlangsung bencana banjir di sekitar Kabupaten
Karawang, yang langsung terpikir pertama-tama dalam benak kami adalah
apakah sarana komunikasi tetap berfungsi dengan baik, bagaimana media
memberikan perhatian pemberitaan terhadap bencana tersebut, dan
berikutnya seteiah kedua hai tersebut terselesaikan baru menginjak
adanya kewajiban kami untuk mendorong para stakeholder di lingkungan
kami untuk turut berbagi dan memberikan kepedulian sosialnya untuk
membantu sebagian korban banjir. Kebijakan ini tidak hanya untuk musibah
di Karawang saja, tetapi juga kami terapkan pada beberapa daerah lain,
sebagaimana belum lama ini juga kami ambll inisiatif untuk membantu
penanganan pasca gempa bumi di Padang dan sekitamya. Memang tidak
seluruh area bencana dapat kami kunjungi, namun minimal secara random
kami berusaha ingin berbagi solidaritas, tetapi yang paling penting
adalah dari Jakarta kami minimal wajib untuk memonitor apakah seluruh
infrastruktur komunikasi dan informatika dapat berfungsi dengan baik
dimana pun terjadi bencana. Jika sulit diatasi, maka perintah kami
adalah lakukan sesuai sarana yang tersedia secara darurat namun dalam
hitungan waktu yang secepat mungkin.
Tanggap darurat penanganan sarana komunikasi dan informatika ini
minimal dapat menghubungkan para korban dengan saudara-saudaranya yang
berada di tempat lain dan di luar negeri sekalipun. Para hadirin
sekalian yang kami hormati Bagi kami dan para hadirin yang beragama
Islam, tentu sangat mengetahui, bahwa Allah SWT dalam Q.S an-Nisa”: 1
berfirman, “Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan mempergunakan
nama-namaNya,kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan
silaturahim”. Bahkan menurut Rasulullah, Allah SWT akan melapangkan
rezeki orang yang suka menyambung tali silaturahim. Allah juga akan
memanjangkan umur kepadanya. Kami yakin, bahwa bagi para hadirin yang
bukan beragama Islam pun tentu pada keyakinan dan kepercayaan
masing-masing tertanarnesensipentingnya silaturahim. Pesan yang kami
ingin sampaikan adalah,bahwasanya keyakinan agama kita semua
sesungguhnya memandang sangat penting tentang silaturahim yang harus
terus dijaga dan direkatkan dengan baik. Tugas kami di Kementerian
Kominfo adalah berusaha agar sekiranya silaturahim fisik tidak dapat
dilakukan, minimal silaturahim meialui sarana komuniltesi dan
informatika yang kini sudah tersedia cukup banyak. Contoh konkret salah
satu forum silaturahim secara fisik yang perbnah kami gagas adalah
ketika beberapa waktu lalu pernah kami bersama Kapolri Bambang Hendarso
mengadakan pertemuan dengan sejumlah pimpinan redaksi media massa di
Kementerian Kominfo. Kami tidak menggunakan istilah melakukan
pemanggilan kepada sejumlah pimpinan media massa untuk permintaan
klarifikasi atas sejumlah pembentaan yang telah mereka pubiikasikan,
tetapi istilah yang kami gunakan adalah kegiatan silaturahim antara
pimpinan Kementerian kominfo dan Kepolisian Rl serta pimpinan media
massa, yang secara kebetulan agenda utamanya adatah masalah Bibit dan
Chandra saat itu. Syukur Alhamdutillah, seusai acara itu sama sekali
tidak ada satu pun media yang mempersoalkan pertemuan tersebut. Dalam
konteks Ini, Kementerian Kominfo dituntut harus smart, creative,
innovatif dan effective dalam memerankan fungsinya sebagai salah satu
institusi humasnya pemerintah dalam menjelaskan kepada publik tentang
duduk masalah tersebut secara proporsional.
Sedangkan silaturahim secara naslonal yang pernah juga kami gagas
dengan menggunakan sarana komunikasi dan informatika adalah ketika
Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara
pada tanggal 30 November 2009 mengadakan dialog interaktif melalui
fasilitas layanan telekomunikasi perdesaan (yang lebih populer dengan
istilah program USO) dengan beberapa pemuka desa, yang berada di pelosok
Nusa Tenggara Barat dan juga Kalimantan Barat. Dialog interaktif yang
dilakukan oleh Presiden Republik Indonesia tersebut kemudian kami tindak
lanjuti dengan pembangunan untuk lebih dari 25.000 desa di seluruh
Indonesa yang semula tidak terakses layanan telepon, maka pada program
100 hari kami yang lalu sudah dapat diakses dengan baik. Ini belum lagi
ditambah dengan penyediaan fasilitas untuk 100 desa berbasis internet,
yang sebelumnya juga belum mengenal dan apalagi mengakses internet.
Kesemuanya itu, Alhamdulillah kami bangun untuk kebutuhan rakyat,
bukan kebutuhan kementerian kami, supaya rakyat berinteraksi
dengan balk dan lancar. Insya Allah hingga 5 tahun ke depan program
percepatan pembangunan komunikasi dan informatika tetap akan kami
teruskan dengan tujuan besarnya adalah untuk mempererat ikatan
nasionalisme, kebangsaan dan ke-lndonesia-an kita bersama. Kami pun juga
tidak hanya berpuas diri dengan pembangunan infrastruktur
telekomunikasi saja, tetapi juga bidang penyiaran dengan program digital
untuk siaran televisi dan radio. Migrasi dari sistem penyiaran analog
ke digital merupakan tuntutan global seiring dengan kemajuan teknologi
di bidang penyiaran dimana Indonesia tidak dapat menghindarinya. Lambat
laun peralatan yang menggunakan teknologi analog akan ditinggalkan dan
tidak akan diproduksi lagi. Penyiaran televisi digital secara
fundamental berbeda dengan analog dimana seandainya pada analog 1 kanal
frekuensi hanya digunakan untuk menyiarkan 1 program, sedangkan pada
siaran digital teresterial 1 kanal dapat menyiarkan sampai dengan 6
program bahkan lebih. Dengan menerapkan sistem siaran digital ini maka
akan terjadi efisiensi penggunaan kanal.
Hanya saja, untuk diketahui bersama, bahwa meskipun konsentrasi Kementerian Kominfo lebih banyak pada pengembangan ICT, ini bukan berarti meninggatkan metode dan kebijakan pola komunikasi tradisional yang sudah berkembang turun temurun di tengah-tengah masyarakat kita selama ini. Pola komunikasi tradisional seperti dengan pertunjukan kesenian dari berbagai daerah tetap memperoleh porsi yang cukup proporsional dalam sejumlah program Kementerian Kominfo, karena terbukti komunikasi semacam itu mampu mencuatkan kearifan lokal dan rnemberi peran partisipatif masyarakat yang lebih aktif dalam mendinamisasikan hubungan pemerintah dan masyarakat. Fakta ini juga menunjukkan, bahwa pendekatan sosial budaya tetap memegang peranan penting dalam era globalisasi seperti saat ini.
Masih dalam ruang lingkup tanggung jawab kami, dalam orasi ilmiah ini
juga perlu kami sampaikan, bahwa Insya Allah sebentar lagi UU No. 14
Tahun 2008 tentang Keterbukaan informasi Pubiik sudah akan mulai efektif
beriaku tepat sebulan lagi yaltu pada tanggal 30 April 2010.
Pemberlakukan UU ini menuntut seluruh badan publik harus anytime
well-prepared menghadapi tuntutan masyarakat yang ingin memperoleh
informasi sejauh tidak dikecualikan. Mengingat UU sejenis itu baru
pertama kalinya di berlakukan di Indonesia, kami di Kementerian Kominfo
sudah mempersiapkan diri untuk menjadi pilot project agar
lembaga-lembaga pubiik lainnya dapat mengikuti pola yang serupa sebagai
best practice yang efektif. Sejauh ini kami sudah melakukan sosialisasi
ke berbagai instansi baik di pusat maupun daerah, yang semata-mata
bertujuan untuk meningkatkan kesadaran pubiik bahwa kehadiran UU KIP
tersebut harus disikapi secara serius dan penuh kehati-hatian namun
tidak perlu merasa panik. Seandainya UU tersebut nantinya
diimplementasikan dengan baik, Insya Allah satu sarana informasi baru
lagi yang dapat dimanfaatkan untuk saling berinteraksi acara nasionat,
karena satu sama lain di antara kita akan semakin terbuka untuk
memperoleh informasi sebanyak mungkin. Oleh karenanya, melalui
kesempatan yang berbahagia ini, kami mengajak para wisudawan dan
wisudawati untuk tidak mengesampingkan ikatan silaturahim di antara kita
semua, karena Alhamdulillah kami di Kementerian Kominfo sudah
memfasilitasi semuanya semampu yang kami dapat lakukan. Kemampuan
akademis dan intelektual adik-adik sekalian tidak perlu kami ragukan,
karena tanpa itu tidak mungkin dapat diwisuda seperti saat ini. Tetapi
bagi kami itu saja tidak cukup, karena wisuda hanya awal dari pengabdian
sesungguhnya bagi bangsa dan negara. Kini bangsa kita tercinta ini
menanti pengabdian adik-adik dalam segala bidang di era informasi dan
teknologi yang luar biasa tinggi percepatan dan perkembangan manfaatnya,
tetapi juga luar biasa dampak negatifnya jika kita lengah
mengantisipasinya. Hadirin sekalian yang kami hormati. Demikianlah
sambutan ini segera kami akhiri. Dengan harapan agar segala fasilitas
komunikasi dan informatika ini bermanfaat bagi kita semua dalam
mengoptimalisasikan fungsi perekat bangsa. Lebih dari itu, kami berharap
agar Universitas Esa Unggul dapat lebih berperan untuk itu dan kami
sangat yakin hal tersebut dapat dilakukan. Insya Allah niat baik tentu
akan berujung hasil yang baik jika kita galang bersama secara
konstruktif Semoga dengan niat tulus kita dan berbagai upaya yang
dilakukan, bangsa Indonesia tetap akan teruji dari berbagai rintangan
dan tantangan serta terus bergerak ke arah kemajuan yang komprehensif
dalam berkompetisi dengan bangsa-bangsa lain yang lebih maju sekalipun.
Insya Allah.
Sekian, terimakasih. Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Menteri Komunikasi dan informatika,
Tifatul Sembiring
More Article Di Sini
|

(0) Comments
Posting Komentar